Kamis, 14 Oktober 2010

Donor Darah


Tahun 2006 ini adalah pertama kali saya melakukan donor darah. Walaupun agak telat sih, soalnya kenapa juga gak saya lakukan dari masa SMA dulu. Namun menurut saya tidak ada kata terlambat untuk berbuat suatu kebaikan. Bukan karena takut jarum atau ngeri melihat darah. Pada waktu itu saya boleh dibilang tipe orang yang cuek dan kurang peka terhadap kehidupan social. Jadi waktu itu gak terfikir untuk melakukan donor darah.


Namun pikiran saya berbalik 180 derajat ketika berawal dari bencana alam tsunami di Nangro Aceh Darussalam (2004 akhir) yang pada waktu itu kebetulan saya ikut menjadi relawan dari sebuah NGO (Non Govermental Organisation).

Betapa miris hati saya melihat penderitaan disana, banyak sekali korban meninggal akibat terjangan tsunami yang maha dahsyat itu. Dan sejak itulah kepedulian saya terhadap kemanusiaan mulai tumbuh secara perlahan.


Setelah kembali ke jakarta, saya ingin berkhidmat terhadap kemanusiaan dengan cara yang berbeda seperti apa yang telah saya lakukan sewaktu menjadi relawan di Aceh. Kebetulan saya aktif di organisasi kepemudaan yang berbasis keagamaan yang juga memiliki program kemanusiaan yang cukup mulia yaitu donor darah dan donor mata (donor setelah meninggal).

Namun baru pada awal tahun 2006 ini saya pertama kali mendonorkan darah. Tak ada perasaan takut sama sekali bagi saya. Walaupun banyak mitos-mitos yang beredar dimasyarakat cukup beranekaragam yang terkadang tak masuk akal.  

Ada yang bilang kalau darahnya diambil bisa pinsan lah, lemas lah, pucat lah dll. Padahal justru sebaliknya, setelah darah kita diambil (250-350 cc) justru badan makin sehat dan fresh. Karena darah kita yang lama itu secara alami akan diganti dengan darah yang baru.

Dan juga dalam setiap pengambilan darah PMI itu tidak sembarangan kok. Sebelumnya calon pendonor itu di periksa kesehatannya, tensi darahnya, berat badannya dll yang berhubungan dengan kesehatannya. Jika pndonor layak diambil darahnya maka akan di lakukan donor, jika tidak layak ya tidak diambil. Jadi tim medis PMI tidak sembarangan loh mengambil darah seseorang.

Mengingat makin tingginya tingkat kebutuhan kantung darah di berbagai rumah sakit, maka bagi kawan-kawan yang merasa memiliki jiwa kemanusiaan dan fisiknya juga cukup sehat  tak ada salahnya deh kalau kita berbagi (darah) untuk membantu menyelamatkan umat manusia.

“blood for humanity”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar